<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>VETopia</title>
	<atom:link href="http://vetopia.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://vetopia.wordpress.com</link>
	<description>a place, where you can ask and vets will answer</description>
	<lastBuildDate>Fri, 02 Nov 2007 04:10:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='vetopia.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>VETopia</title>
		<link>http://vetopia.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://vetopia.wordpress.com/osd.xml" title="VETopia" />
	<atom:link rel='hub' href='http://vetopia.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>FAQ tentang penyakit sapi gila (BSE)-bagian 1</title>
		<link>http://vetopia.wordpress.com/2007/11/02/faq-tentang-penyakit-sapi-gila-bse-bagian-1/</link>
		<comments>http://vetopia.wordpress.com/2007/11/02/faq-tentang-penyakit-sapi-gila-bse-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Nov 2007 03:57:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vetopia</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Livestock]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vetopia.wordpress.com/2007/11/02/faq-tentang-penyakit-sapi-gila-bse-bagian-1/</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah berbagai informasi tentang penyakit sapi gila yang saya anggap penting untuk diketahui dan akan disampaikan secara acak (dan akan diperbaiki ketika waktunya memungkinkan): 1. Apa itu penyakit sapi gila? Penyakit sapi gila atau di dunia kesehatan hewan dikenal dengan bovine spongiform encephalopathy (BSE) merupakan penyakit neurogeneratif yang bersifat fatal pada sapi. 2. Apa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vetopia.wordpress.com&amp;blog=1882299&amp;post=16&amp;subd=vetopia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut adalah berbagai informasi tentang penyakit sapi gila yang saya anggap penting untuk diketahui dan akan disampaikan secara acak (dan akan diperbaiki ketika waktunya memungkinkan):</p>
<p>1. Apa itu penyakit sapi gila?</p>
<p>Penyakit sapi gila atau di dunia kesehatan hewan dikenal dengan bovine spongiform encephalopathy (BSE) merupakan penyakit neurogeneratif yang bersifat fatal pada sapi.</p>
<p>2. Apa penyebab BSE?</p>
<p>Sampai saat ini para ahli umumnya sepakat bahwa BSE disebabkan oleh suatu bentuk protein yang bersifat infeksius yaitu Prion.</p>
<p><span id="more-16"></span>3. Apa bedanya BSE dengan TSE?</p>
<p>TSE atau transmissible spongiform encepahlopathy adalah nama kelompok penyakit yang disebabkan oleh prion, jadi BSE merupakan salah satu TSE. Contoh lain dari TSE adalah Chronic Wasting Disease (CWD) pada jenis rusa, elk; scrapie pada domba/kambing; Feline spongiform encepahlopathy (FSE) pada jenis kucing dsb.</p>
<p>4. Apakah orang bisa terserang BSE?</p>
<p>BSE merupakan penyakit yang bersifat zoonosis, yaitu penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Pada manusia BSE bisa mengakibatkan new variant Creutzfeldt Jacob Disease (vCJD).</p>
<p>5. Bagaimana manusia bisa terkena BSE?</p>
<p>Manusia bisa terkena BSE apabila dia mengkonsumsi produk hewan tertentu yang berasal dari hewan yang terserang BSE.</p>
<p>6. Apakah susu bisa menularkan BSE?</p>
<p>Penelitian menunjukan bahwa BSE tidak dapat ditularkan melalui susu sapi, walaupun susu tersebut berasal dari sapi yang tertular BSE</p>
<p>7. Apakah BSE ada di Indonesia?</p>
<p>Sampai saat ini BSE belum pernah dilaporkan ada di Indonesia. Pemerintah Indonesia pada tahun 2002 melalui Surat Keputusan Meteri Pertanian menyatakan bahwa Indonesia bebas BSE.</p>
<p>8. Kapan BSE ditemukan dan dimana?</p>
<p>BSE pertama kali ditemukan di Inggris pada tahun 1986.</p>
<p>9. Negara manakah yang tertular BSE?</p>
<p>Austria, Belgia, Kanada, Rep. Czech, Denmark, Finlandia, France, Jerman, Yunani, Irlandia, Israel, Italia, Jepang, Liectenstein, Luxembourg, Belanda, Polandia, Portugal, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Swedia, Swiss, Inggris, Amerika.</p>
<p align="center"><img width="225" src="http://pebipurwosuseno.files.wordpress.com/2007/10/a-monde-bse-1.jpg?w=225&#038;h=146" alt="a Monde BSE" height="146" /></p>
<p>10. Bagaimana pembagian status BSE berdasarkan Orgaisasi kesehatan Hewan Dunia?</p>
<p>Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) membagi status BSE suatu negara menjadi tiga yaitu: Negligible BSE Risk, Controlled BSE Risk dan Undetermined BSE Risk.</p>
<p>11. Termasuk kategori manakah Indonesia?</p>
<p>Penentuan status oleh OIE didasarkan atas pengajuan negara bersangkutan ke OIE. Pada saat ini Indonesia belum mengajukan permohonan penilaian status. Indonesia masih berpatokan pada SK Menteri Pertanian yang menyatakan bahwa Indonesia bebas BSE.</p>
<p>12. Bagaimana pembagian jaringan berdasarkan tingkat infektivitasnya?</p>
<p>Tingkat infevtivitas tinggi: Otak, medula spinalis, mata</p>
<p>Tingkat infektivitas sedang: Limpa, tonsil, limfoglandula, ileum, kolon proksimalis, caitan serebrospinal, glandula pituary, adrenal, glandula pineal, plasenta, kolon distal</p>
<p>Tingkat infektivitas rendah: Syaraf perifer, mukosa hidung, timus, sumsum tulang, pankreas, paru-paru, hati</p>
<p>Tingkat infektivitas tak terdeteksi: Otak, jantung, ambing, susu, bekuan darah, serum, tinja, ginjal, kelenjar ludah, ovarium, uterus, testis, seminalis testis, jaringan fetus, kolostrum, cairan empedu, tulang, tulang rawan, jaringan ikat, rambut, kulit dan urin</p>
<p align="center"><img width="240" src="http://pebipurwosuseno.files.wordpress.com/2007/10/picture2.jpg?w=240&#038;h=117" alt="Picture2" height="117" style="width:328px;height:140px;" /></p>
<p align="center">-bersambung-</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vetopia.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vetopia.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vetopia.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vetopia.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vetopia.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vetopia.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vetopia.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vetopia.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vetopia.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vetopia.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vetopia.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vetopia.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vetopia.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vetopia.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vetopia.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vetopia.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vetopia.wordpress.com&amp;blog=1882299&amp;post=16&amp;subd=vetopia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vetopia.wordpress.com/2007/11/02/faq-tentang-penyakit-sapi-gila-bse-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc51bdaa2339356634f511ed1f3c454c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">vetopia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pebipurwosuseno.files.wordpress.com/2007/10/a-monde-bse-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">a Monde BSE</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pebipurwosuseno.files.wordpress.com/2007/10/picture2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Picture2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peranan Studi Genetik dalam Kegiatan Konservasi</title>
		<link>http://vetopia.wordpress.com/2007/11/02/peranan-studi-genetik-dalam-kegiatan-konservasi/</link>
		<comments>http://vetopia.wordpress.com/2007/11/02/peranan-studi-genetik-dalam-kegiatan-konservasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Nov 2007 03:54:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vetopia</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[konservasi]]></category>
		<category><![CDATA[studi genetik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vetopia.wordpress.com/2007/11/02/peranan-studi-genetik-dalam-kegiatan-konservasi/</guid>
		<description><![CDATA[Peranan Studi Genetik dalam Kegiatan Konservasi Drh. Chandramaya Siska Damayanti, MSi “Alam di seluruh permukaan bumi tersusun atas berbagai spesies makhluk hidup liar yang tanpa disadari telah memberikan berbagai kemudahan dan pelayanan pada manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, yang bisa jadi sangat mahal atau bahkan tidak mungkin diciptakan sendiri oleh manusia. Berkurangnya jumlah spesies liar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vetopia.wordpress.com&amp;blog=1882299&amp;post=15&amp;subd=vetopia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><span style="font-size:14pt;color:#333399;line-height:150%;font-family:Arial;">Peranan Studi Genetik dalam Kegiatan Konservasi</span></strong></p>
<p align="center"><strong><span style="font-size:14pt;color:#333399;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></strong><span style="font-size:11pt;color:#333399;line-height:150%;font-family:Arial;">Drh. Chandramaya Siska Damayanti, MSi</span><span style="color:#333399;font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="center"><span style="color:#333399;font-family:Arial;"></span><em><span style="color:#333399;font-family:Arial;">“Alam di seluruh permukaan bumi tersusun atas berbagai spesies makhluk hidup liar yang tanpa disadari telah memberikan berbagai kemudahan dan pelayanan pada manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, yang bisa jadi sangat mahal atau bahkan tidak mungkin diciptakan sendiri oleh manusia.<span> </span>Berkurangnya jumlah spesies liar di alam dalam jangka panjang dapat memberikan dampak yang sangat buruk bagi kelangsungan hidup manusia itu sendiri.”</span></em><span style="color:#333399;font-family:Arial;"> </span><span style="color:#333399;font-family:Arial;"></span></p>
<p align="justify"><span style="color:#333399;font-family:Arial;"></span><span style="color:#333399;font-family:Arial;">Keanekaragaman hayati (<em>biodiversity</em>) dibagi menjadi tiga kategori dasar, yaitu <strong>keragaman genetik, keragaman spesies,</strong>dan<strong> keragaman ekosistem</strong>.<span> </span></span><span style="color:#333399;font-family:Arial;"></span></p>
<p align="justify"><span style="color:#333399;font-family:Arial;"></span><strong><span style="color:#333399;font-family:Arial;">Keragaman genetik</span></strong><span style="color:#333399;font-family:Arial;"> merupakan variasi genetik di dalam setiap spesies yang mencakup aspek biokimia, struktur, dan sifat organisme yang diturunkan secara fisik dari induknya dan dibentuk dari DNA.<span> </span></span></p>
<p align="justify"><span style="color:#333399;font-family:Arial;"><span></span></span><strong><span style="color:#333399;font-family:Arial;">Keragaman spesies</span></strong><span style="color:#333399;font-family:Arial;"> merupakan variasi seluruh tumbuhan, hewan, fungi, dan mikroorganisme yang masing-masing bertumbuh dan berkembangbiak sesuai dengan karakteristiknya. </span></p>
<p align="justify"><span style="color:#333399;font-family:Arial;"></span><strong><span style="color:#333399;font-family:Arial;">Keragaman ekosistem</span></strong><span style="color:#333399;font-family:Arial;"> merupakan variasi ekosistem, dimana ekosistem adalah unit ekologis yang mempunyai komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi, dan antar komponen-komponen tersebut terjadi pengambilan dan perpindahan energi.<span> </span></span><span style="color:#333399;font-family:Arial;"></span></p>
<p align="justify"><span style="color:#333399;font-family:Arial;"></span><span style="color:#333399;font-family:Arial;">Kegiatan konservasi diperlukan untuk mempertahankan keanekaragaman hayati tersebut, dimana saat ini kerusakan lingkungan akibat ulah manusia tidak hanya mengurangi populasi spesies hewan dan tumbuhan, tetapi juga menyebabkan spesies-spesies tersebut terancam punah.</span><span style="color:#333399;font-family:Arial;"> </span><span style="color:#333399;font-family:Arial;">Ilmu konservasi mempelajari individu dan populasi yang sudah terpengaruh oleh kerusakan habitat, eksploitasi, dan perubahan lingkungan. Informasi ini digunakan untuk membuat suatu keputusan yang dapat mempertahankan keberadaan suatu spesies di alam. <span></span>Sudah lebih dari satu dekade ini, studi genetik digunakan untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam dalam pengambilan keputusan tersebut karena, dengan studi genetik, informasi tentang keragaman antar individu di dalam dan antar populasi, terutama pada spesies-spesies yang terancam punah, dapat diketahui.<span> </span></span><span style="color:#333399;font-family:Arial;"></span></p>
<p align="justify"><span style="color:#333399;font-family:Arial;"></span><span style="color:#333399;font-family:Arial;"><span id="more-15"></span>Perkembangan teknik molekuler seperti<span> </span>penemuan teknik <em>Polymerase Chain Reaction</em> (PCR) yang mampu mengamplifikasi untai DNA hingga mencapai konsentrasi tertentu, penggunaan untai DNA lestari sebagai marker dalam proses PCR, penemuan lokus mikrosatelit yang hipervariabel, dan penemuan metode sekuensing DNA, telah menyebabkan ilmu genetik molekuler mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam studi biologi suatu populasi. </span><span style="color:#333399;font-family:Arial;"></span></p>
<p align="justify"><span style="color:#333399;font-family:Arial;"></span><span style="color:#333399;font-family:Arial;">Terobosan-terobosan ini, bersamaan dengan berkembangnya teknik pemodelan matematika melalui program-program komputer, telah mempermudah para peneliti untuk mendapatkan data genetik suatu populasi yang sangat berguna dalam merancang program konservasi suatu spesies tertentu.</span><span style="color:#333399;font-family:Arial;"> </span><span style="color:#333399;font-family:Arial;">Penerapan studi genetik dalam permasalahan konservasi didasari oleh teori genetika populasi. </span></p>
<p align="justify"><span style="color:#333399;font-family:Arial;">Genetika populasi merupakan salah satu cabang ilmu biologi populasi yang mempelajari tentang faktor-faktor yang menentukan komposisi genetik suatu populasi dan bagaimana faktor-faktor tersebut berperan dalam proses evolusi.<span> </span></span><span style="color:#333399;font-family:Arial;">Genetika populasi juga meliputi studi terhadap berbagai faktor yang membentuk struktur genetik suatu populasi dan menyebabkan perubahan-perubahan evolusioner suatu spesies sepanjang waktu. <span></span>Terdapat beberapa faktor yang sangat berperan dalam kejadian evolusi pada suatu populasi, yaitu mutasi, rekombinasi, seleksi alam, <em>genetic drift</em>, <em>gene flow</em>, dan perkawinan yang tidak acak. Faktor-faktor tersebut akan memepengaruhi keragaman genetik pada suatu populasi.<span> </span></span><span style="color:#333399;font-family:Arial;"></span></p>
<p align="justify"><span style="color:#333399;font-family:Arial;"></span><span style="color:#333399;font-family:Arial;">Prinsip utama dalam genetik populasi adalah prinsip Hardy-Weinberg.<span> </span>Prinsip Hardy-Weinberg menduga bahwa, dalam kondisi tertentu, frekuensi alel dan genotipe akan tetap konstan dalam suatu populasi, dan keduanya saling berhubungan satu sama lain.<span> </span>Kondisi-kondisi tertentu yang dimaksud dalam prinsip Hardy-Weinberg ini meliputi : 1) kawin secara seksual dan acak, 2) tidak ada seleksi alam, 3) kejadian mutasi diabaikan, 4) tidak ada individu yang masuk atau keluar dari suatu populasi, dan 5) ukuran populasi yang cukup besar.<span> </span>Jika kondisi-kondisi ini terpenuhi oleh suatu populasi, maka populasi tersebut disebut sebagai populasi yang berada dalam keseimbangan Hardy-Weinberg (Hardy-Weinberg<span> </span><em>Equilibrium</em>).<span> P</span></span><span style="color:#333399;font-family:Arial;">enyimpangan dari keseimbangan Hardy-Weinberg ini merupakan dasar untuk mendeteksi kejadian <em>inbreeding</em>, fragmentasi populasi, migrasi, dan seleksi.<span> </span><span></span></span><span style="color:#333399;font-family:Arial;"></span></p>
<p align="justify"><span style="color:#333399;font-family:Arial;"></span><span style="color:#333399;font-family:Arial;">Memahami dan mempertahankan keragaman genetik suatu populasi sangat penting dalam konservasi karena keragaman genetik yang tinggi akan sangat membantu suatu populasi beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya, termasuk mampu beradaptasi terhadap penyakit-penyakit yang ada di alam.<span> </span>Sebagai contoh, suatu populasi dengan keragaman genetik yang rendah dapat kita umpamakan sebagai suatu kelompok individu yang saling bersaudara satu sama lain.<span> </span>Sehingga dalam jangka panjang, perkawinan yang terjadi di dalam kelompok tersebut akan merupakan perkawinan antar saudara (<em>inbreeding</em>).<span> </span>Kejadian <em>inbreeding</em> ini akan menyebabkan penurunan kualitas reproduksi dan menyebabkan suatu individu menjadi sensitif terhadap patogen.</span><span style="color:#333399;font-family:Arial;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="color:#333399;font-family:Arial;"></span><span style="color:#333399;font-family:Arial;">Dengan mengetahui status genetik suatu populasi, kita dapat merancang program konservasi untuk menghindari kepunahan suatu spesies.<span> </span>Misalnya dengan memasukkan individu baru yang berasal dari populasi yang memiliki keragaman genetik yang tinggi ke dalam populasi dengan keragaman genetik yang rendah (istilahnya : memasukkan darah baru atau darah segar ke dalam suatu populasi) untuk menghindari kejadian <em>inbreeding</em>.<span> </span>Atau tindakan-tindakan konservasi lainnya seperti menjadikan wilayah yang dihuni oleh populasi spesies dengan keragaman genetik yang tinggi sebagai taman nasional? (Ahli manajemen konservasi tentu lebih paham tentang hal ini).<span> </span>Segala usaha yang dilakukan tetap memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mempertahankan keragaman genetik pada suatu populasi spesies untuk mempertahankan keberadaannya di alam di masa yang akan datang.</span><span style="color:#333399;font-family:Arial;"> </span><span style="color:#333399;font-family:Arial;"><span></span></span></p>
<p align="right"><span style="color:#333399;font-family:Arial;"><span></span></span><span style="font-size:11pt;color:#333399;font-family:Arial;">Dari berbagai Sumber</span></p>
<p align="right"><span style="font-size:11pt;color:#333399;font-family:Arial;"></span><strong><span style="font-size:11pt;color:#333399;font-family:Arial;">Drh. Chandramaya Siska Damayanti, MSi</span></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vetopia.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vetopia.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vetopia.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vetopia.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vetopia.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vetopia.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vetopia.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vetopia.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vetopia.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vetopia.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vetopia.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vetopia.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vetopia.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vetopia.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vetopia.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vetopia.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vetopia.wordpress.com&amp;blog=1882299&amp;post=15&amp;subd=vetopia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vetopia.wordpress.com/2007/11/02/peranan-studi-genetik-dalam-kegiatan-konservasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc51bdaa2339356634f511ed1f3c454c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">vetopia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AI in Indonesia, EI in Australia&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</title>
		<link>http://vetopia.wordpress.com/2007/11/02/ai-in-indonesia-ei-in-australia/</link>
		<comments>http://vetopia.wordpress.com/2007/11/02/ai-in-indonesia-ei-in-australia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Nov 2007 03:53:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vetopia</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Horse]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[EI]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit hewan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vetopia.wordpress.com/2007/11/02/ai-in-indonesia-ei-in-australia/</guid>
		<description><![CDATA[Another FAQ series Ini merupakan sumbangan salah satu kolega dokter hewan (drh Chandramaya Siska Damayanti, MSi) dengan sedikit tambahan dari saya. Mudah-mudahan dapat menambah wawasan kita dan juga membuat kita lebih terpicu untuk saling berbagi informasi dan pengetahuan. Silahkan untuk menambahkan atau mengkoreksi informasi didalam tulisan ini! Beberapa informasi yang penting tentang EI: What is [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vetopia.wordpress.com&amp;blog=1882299&amp;post=14&amp;subd=vetopia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Another FAQ series</strong></p>
<p align="center"><em>Ini merupakan sumbangan salah satu kolega dokter hewan (drh Chandramaya Siska Damayanti, MSi) dengan sedikit tambahan dari saya. Mudah-mudahan dapat menambah wawasan kita dan juga membuat kita lebih terpicu untuk saling berbagi informasi dan pengetahuan.</em></p>
<p align="center"><em>Silahkan untuk menambahkan atau mengkoreksi informasi didalam tulisan ini!</em></p>
<p align="left"><strong>Beberapa informasi yang penting tentang EI:</strong></p>
<p><strong>What is EI?</strong><br />
EI stands for Equine Influenza, or to make it easier to say, people called it Horse Flu.</p>
<p><strong>What does cause EI?</strong><br />
Just like other flu diseases, EI is caused by influenza virus. The strain of influenza virus that causes EI is believed to be H3N8.</p>
<p><strong><span id="more-14"></span>Is EI fatal to horse? What are the symptoms?</strong><br />
EI is a major viral respiratory disease which is highly contagious among horses. This EI virus produce more severe symptoms compare to other horse respiratory viruses (Equine Herpesvirus, Equine Adenovirus, and Equine Rhinovirus) with horses developing a fever and dry hacking cough. Horses become ill and reluctant to eat and drink for several days but usually recover in 2-3 weeks.</p>
<p><strong>How can the virus spread among the horses?</strong><br />
This virus can be spread easily from horse to horse as a result of droplets and also from nasal discharge. The infected things, like infected rugs and brushes, can also spread the virus.</p>
<p><strong>Can the virus jump to human or other species?</strong><br />
EI is harmless to human and there is no evidence of the virus jumping to human and there is no expectation of it doing so. But the Equine Influenza virus (H3N8) can jump to dogs (greyhound) and develop similar symptoms and could be mistaken for common &#8220;kennel cough&#8221;.</p>
<p><strong>Can EI be cured?</strong><br />
Just like other viral diseases, there is no drug for EI. The infected horses will develop their own immunity to protect themselves from future infection. However, many horses develop secondary infection which caused by bacterial and can lead to pneumonia and other worse conditions. Good nursing and antibiotics, if necessary, are important part for treatment.</p>
<p><strong>How can we prevent EI?</strong><br />
Vaccination is the best way to deal with this disease.</p>
<p><strong>Is there any economical problem due to EI?</strong><br />
The outbreak of EI will have a very devastating effect in horse populations and huge financial loses for countries with high number of racing industries such as Australia.</p>
<p><strong>Geographical distribution of EI in 2006</strong></p>
<p align="center"><img width="240" src="http://pebipurwosuseno.files.wordpress.com/2007/10/eijuldec06-1.jpg?w=240&#038;h=127" alt="EI juldec 06" height="127" style="width:280px;height:131px;" /></p>
<p><strong>Geographical distribution of EI in 2007</strong></p>
<p align="center"><img width="240" src="http://pebipurwosuseno.files.wordpress.com/2007/10/eijuldec07.jpg?w=240&#038;h=127" alt="EI juldec 07" height="127" style="width:280px;height:135px;" /></p>
<p><strong>EI status in Indonesia</strong></p>
<p>Based on the OIE sites, EI is non notifiable disease in Indonesia and the disease never reported in Indonesia</p>
<p align="right">From: many sources and map from WAHID, OIE sites</p>
<p align="right"><strong>drh. Chandramaya Siska Damayanti, MSi</strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vetopia.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vetopia.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vetopia.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vetopia.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vetopia.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vetopia.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vetopia.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vetopia.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vetopia.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vetopia.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vetopia.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vetopia.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vetopia.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vetopia.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vetopia.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vetopia.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vetopia.wordpress.com&amp;blog=1882299&amp;post=14&amp;subd=vetopia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vetopia.wordpress.com/2007/11/02/ai-in-indonesia-ei-in-australia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc51bdaa2339356634f511ed1f3c454c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">vetopia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pebipurwosuseno.files.wordpress.com/2007/10/eijuldec06-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">EI juldec 06</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pebipurwosuseno.files.wordpress.com/2007/10/eijuldec07.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">EI juldec 07</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Global Warming dan Penyakit Hewan</title>
		<link>http://vetopia.wordpress.com/2007/11/02/global-warming-dan-penyakit-hewan/</link>
		<comments>http://vetopia.wordpress.com/2007/11/02/global-warming-dan-penyakit-hewan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Nov 2007 03:51:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vetopia</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Global warming]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit hewan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vetopia.wordpress.com/2007/11/02/global-warming-dan-penyakit-hewan/</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: drh. Chandramaya Siska Damayanti, Msi &#8220;As a result of globalization and climate change we are currently facing an unprecedented worldwide impact of emerging and re-emerging animal diseases and zoonoses &#8211; animal diseases transmissible to humans. Improving the governance of animal health systems in both the public and private sector is the most effective response [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vetopia.wordpress.com&amp;blog=1882299&amp;post=13&amp;subd=vetopia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#000080"><strong>Penulis: drh. Chandramaya Siska Damayanti, Msi</strong></font></p>
<p align="right"><font color="#800080"><em>&#8220;As a result of globalization and climate change we are currently facing an unprecedented worldwide impact of emerging and re-emerging animal diseases and zoonoses &#8211; animal diseases transmissible to humans.<br />
Improving the governance of animal health systems in both the public and private sector is the most effective response</em></font> <font color="#800080"><em>to this alarming situation&#8221;</em></font></p>
<p align="right"><font color="#800080">Dr. Bernard Vallat (OIE Director General)</font></p>
<p><a href="http://pebipurwosuseno.wordpress.com/2007/10/28/global-warming-dan-penyakit-hewan/"><img align="right" width="225" src="http://pebipurwosuseno.files.wordpress.com/2007/10/global-warming-1.jpg?w=225&#038;h=372" alt="Global Warming" height="372" /></a>Global warming (pemanasan global) merupakan salah satu isu yang sangat penting di seluruh dunia saat ini, selain terorisme. Para kepala negara di seluruh dunia selalu menyempatkan diri membahas isu ini pada momen-momen pertemuan tingkat regional maupun internasional. Begitu pentingnya isu ini, baru-baru ini panitia pemberi Nobel, The Norwegian Nobel Committee menganugerahkan Nobel Perdamaian kepada mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Albert Arnold (Al) Gore Jr, dan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) atas usahanya untuk membangun dan menyebarkan pengetahuan tentang global warming pada masyarakat dunia.</p>
<p>Global warming merupakan istilah yang menunjukkan peningkatan suhu rata-rata udara permukaan bumi dan lautan pada dekade terakhir dan peningkatan suhu ini masih akan terus berlangsung. Suhu udara rata-rata permukaan bumi meningkat 0.74 + 0.18 C dalam 100 tahun terakhir. Sedangkan IPCC memprediksi bahwa suhu global cenderung meningkat sebesar 1.1 sampai 6.4 C antara tahun 1990 dan 2100. Peningkatan suhu bumi sebenarnya dapat terjadi secara alami, namun penyebab utama global warming ini adalah tingginya level greenhouse gases, terutama CO2 dan metan di atmosfer akibat aktifitas manusia, seperti tingginya laju pembakaran bahan bakar fosil dan perubahan fungsi lahan terutama deforestasi.</p>
<p><span id="more-13"></span>Ada beberapa istilah lain di dalam literatur selain global warming yang biasa digunakan untuk menunjukkan perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia, yaitu climate change dan anthropogenic climate change.</p>
<p>Global warming telah terbukti memiliki dampak yang sangat luas pada kesejahteraan dan kesehatan manusia. Banyak literatur yang menyebutkan bahwa global warming turut bertanggungjawab terhadap terjadinya becana-bencana alam di belahan bumi ini, seperti gelombang panas, badai-badai tropis, banjir besar, ataupun kekeringan berkepanjangan yang melanda beberapa negara beberapa tahun terakhir ini. Selain menelan korban jiwa, bencana-bencana tersebut telah menimbulkan kerugian ekologi, ekonomi, dan sosial yang sangat besar. Meningginya level permukaan laut akibat global warming juga telah menimbulkan kekhawatiran pada masyarakat penghuni pulau-pulau kecil di beberapa negara akan keberadaan tempat tinggalnya pada beberapa tahun yang akan datang.</p>
<p>Global warming juga diyakini sebagai penyebab munculnya wabah penyakit-penyakit yang disebarkan oleh vektor. Dimana, perubahan iklim dapat merubah pola distribusi dari vektor-vektor tersebut dan juga mempengaruhi laju reproduksi dan maturasi dari agen infektif yang ada di dalam tubuh vektor. Kondisi inilah yang diyakini menjadi salah satu penyebab tingginya kejadian Malaria dan Dengue pada beberapa negara, termasuk Indonesia.</p>
<p>Lalu apa dampak global warming terhadap kesejahteraan dan kesehatan hewan? Ilmuwan telah meyakini bahwa suhu bumi yang semakin tinggi akan mempercepat hilangnya spesies-spesies hewan dari muka bumi. Global warming pada skala global dan regional diprediksi akan merubah distribusi spesies, sejarah hidup spesies, komposisi komunitas, dan juga fungsi ekosistem. Selain itu, merebaknya penyakit infeksius pada beberapa hewan domestik maupun hewan liar yang disebabkan oleh global warming telah menjadi bukti bahwa ancaman global warming terhadap kesehatan hewan benar-benar sudah ada di depan mata.</p>
<p><strong>Bukti pertama</strong>. Merebaknya penyakit Bluetongue di dataran Eropa antara tahun 1998-2005. Penyakit ini telah membunuh lebih dari 1.5 juta ekor domba dan menyebabkan periode ini sebagai periode wabah bluetongue terlama dan terbesar dalam sejarah Eropa. Lima serotipe virus bluetongue diketahui telah menginvasi Eropa pada periode ini. Kasus wabah bluetongue ini terjadi di beberapa negara atau wilayah yang sebelumnya dilaporkan sama sekali tidak pernah terdapat kasus Culicoides-borne arboviral disease, seperti Turki, dataran Yunani, Bulgaria, beberapa negara Balkan, dataran Italia, Sicily dan Sardinia, Corsica, kepulauan Balearic, dan Tunisia. Kejadian ini sekarang dihubungkan dengan kejadian pemanasan global di wilayah Eropa. Dari hasil penelitian yang dilakukan, terindikasi bahwa penyebaran dramatis dari vektor Culicoides imicola ke wilayah yang tidak pernah mengalami infeksi bluetongue sebelumnya atau transimisi virus bluetongue oleh vektor baru, C. obsoletus dan C. pulicaris, hanya terjadi di area-area yang secara nyata mengalami pemanasan suhu. Hal ini menunjukkan bahwa adanya hubungan langsung antara kemunculan bluetongue di Eropa dengan global warming.</p>
<p><strong>Bukti kedua</strong>. Adanya keterlibatan global warming terhadap punahnya 67% dari sekitar 110 spesies katak Atelopus sp. dari pegunungan Costa Rica akibat infeksi fungi patogen Batrachochytrium dendrobatidis sekitar 20 tahun lalu. Atelopus sp merupakan spesies katak endemis di wilayah tropis benua Amerika. Analisa hubungan periode kepunahan terhadap perubahan level permukaan laut dan suhu udara menunjukkan bahwa pemanasan global telah menyebabkan suhu lingkungan pada sebagian besar pegunungan-pegunungan di wilayah Amerika Selatan dan Tengah bergerak mendekati suhu optimum pertumbuhan fungi pathogen B. dendrobatidis sehingga menyebabkan wabah dan mengakibatkan punahnya sebagian spesies Atelopus sp.</p>
<p>Dua kasus di atas telah memperlihatkan bahwa dampak negatif global warming terhadap kejadian penyakit pada hewan adalah nyata. Tidak hanya itu, peristiwa El Nino-Southern Oscillation, salah satu fenomena alam yang juga dipengaruhi oleh global warming, diketahui juga berpengaruh pada patogen yang hidup di laut yang menyebabkan penyakit pada oyster dan coral.</p>
<p>Walaupun sampai saat ini bukti keterlibatan global warming terhadap wabah penyakit menular pada hewan domestik baru ditunjukkan oleh munculnya wabah bluetongue di dataran Eropa yang telah disebutkan di atas, kita harus tetap waspada terhadap kemunculan-kemunculan wabah penyakit lainnya jika tidak ada usaha-usaha untuk memperlambat laju global warming. Banyak penyakit penting hewan domestik yang baik kemunculannya atau pun siklus hidup agen penyebabnya secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh faktor-faktor cuaca, seperti suhu dan kelembaban udara. Misalnya :</p>
<p><strong>Anthrax</strong>. Suhu, kelembaban udara, dan kelembaban tanah mempengaruhi keberhasilan germinasi dari spora Bacillus anthracis. Wabah biasanya berhubungan dengan perubahan musim hujan dan kemarau, serta suhu lingkungan yang tinggi.</p>
<p><strong>Haemorrhagic septicaemia (pasteurellosis)</strong>. Agen penyebab, Pasteurella multocida, dapat bertahan hidup di luar tubuh inang pada lingkungan yang lembab dan kejadian penyakit biasanya terjadi pada musim hujan.</p>
<p><strong>Haemonchosis.</strong> Kemampuan hidup telur dan larva dari Haemonchus contortus, sampai mereka termakan oleh inang, bergantung pada suhu dan kelembaban. Pada kondisi lingkungan yang hangat dan kelembaban yang moderat, larva dapat hidup berminggu-minggu sampai berbulan-bulan.</p>
<p>Masih banyak lagi penyakit-penyakit pada hewan domestik dan hewan liar yang kemunculannya atau pun siklus hidup vektor dan agen penyebabnya dipengaruhi oleh faktor suhu dan kelembaban lingkungan. Sehingga, perubahan cuaca akibat global warming dapat mempengaruhi waktu kemunculan wabah ataupun intensitas wabah dari penyakit-penyakit tersebut.</p>
<p>Bahan bacaan :</p>
<ol>
<li>
<p align="left">Blaustein AR dan Dobson A. 2006. A message from the frogs. Nature 439 (12 Januari 2006), 143-144</p>
</li>
<li>
<p align="left">Climate Change 2001 : Impacts, Adaptation, and Vulnerability<br />
<a href="http://www.grida.no/climate/ipcc_tar/wg2/index.htm">http://www.grida.no/climate/ipcc_tar/wg2/index.htm</a></li>
<li>
<p align="left">Diffenbaugh NS et al. 2005. Fine-scales processes regulate the response of extreme events to global climate change. PNAS 102 (44), 15774-15778</p>
</li>
<li>
<p align="left">Emmanuel K. 2005. Increasing destructiveness tropical cyclones over the past 30 years. Nature 436 (4 Agustus 2005), 686. 688</p>
</li>
<li>
<p align="left">Harvell CD et al. 2002. Climate warming and disease risks for terrestrial and marine biota. Science 296, 2158-2162</p>
</li>
<li>
<p align="left">McLaughlin JF et al. 2002. Climate change hastens population extinctions. PNAS 99 (9), 6070-6074</p>
</li>
<li>
<p align="left">Pounds JA. et al. 2006. Widespread amphibians extinction from epidemic disease driven by global warming. Nature 439 (12 Januari 2006), 161-167</p>
</li>
<li>
<p align="left">Purse BV et al. 2005. Global warming and the recent emergence of Bluetongue in Europe. Nature Reviews Microbiology 3, 171-181</p>
</li>
<li>
<p align="left">Ruddiman WF. 2005. How did humans first alter global climate?.<br />
Scientific American (March 2005), 46-53</li>
<li>
<p align="left">Thomas CD et al. 2004. Extinction risk from climate change.<br />
Nature 427 (8 Januari 2004), 145-148</li>
</ol>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vetopia.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vetopia.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vetopia.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vetopia.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vetopia.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vetopia.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vetopia.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vetopia.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vetopia.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vetopia.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vetopia.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vetopia.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vetopia.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vetopia.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vetopia.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vetopia.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vetopia.wordpress.com&amp;blog=1882299&amp;post=13&amp;subd=vetopia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vetopia.wordpress.com/2007/11/02/global-warming-dan-penyakit-hewan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc51bdaa2339356634f511ed1f3c454c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">vetopia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pebipurwosuseno.files.wordpress.com/2007/10/global-warming-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Global Warming</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Vaksinasi Anjing</title>
		<link>http://vetopia.wordpress.com/2007/10/14/vaksinasi-anjing/</link>
		<comments>http://vetopia.wordpress.com/2007/10/14/vaksinasi-anjing/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Oct 2007 15:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vetopia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dogs]]></category>
		<category><![CDATA[Pets]]></category>
		<category><![CDATA[anjing]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan hewan]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit hewan]]></category>
		<category><![CDATA[vaksinasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vetopia.wordpress.com/2007/10/14/vaksinasi-anjing/</guid>
		<description><![CDATA[Program vaksinasi anjing berikut adalah merupakan pedoman untuk pelaksanaan vaksinasi anjing. Untuk penjelasan lebih jelas silahkan menghubungi dokter hewan langganan anda: Distemper - penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang paru-paru, saluran pencernaan dan otak Hepatitis &#8211; penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang hati Leptospirosis &#8211; penyakit yang disebabkan oleh bakteri pada sistem urinari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vetopia.wordpress.com&amp;blog=1882299&amp;post=12&amp;subd=vetopia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Program vaksinasi anjing berikut adalah merupakan pedoman untuk pelaksanaan vaksinasi anjing.  Untuk penjelasan lebih jelas silahkan menghubungi dokter hewan langganan anda:</p>
<ol>
<li><font color="#0000ff"><strong>Distemper </strong></font>- penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang paru-paru, saluran pencernaan dan otak</li>
<li><font color="#0000ff"><strong>Hepatitis</strong></font> &#8211; penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang hati</li>
<li><font color="#0000ff"><strong>Leptospirosis</strong></font> &#8211; penyakit yang disebabkan oleh bakteri pada sistem urinari</li>
<li><font color="#0000ff"><strong>Parainfluenza</strong></font> &#8211; infectious bronchitis</li>
<li><font color="#0000ff"><strong>Parvovirus</strong></font> &#8211; penyakit yang disebabkan oleh virus pada saluran pencernaan</li>
<li><font color="#0000ff"><strong>Rabies</strong></font> &#8211; penyakit yang disebabkan oleh virus, bisa berakibat fatal pada hewan dan juga dapat ditularkan ke manusia (zoonosis)</li>
<li><font color="#0000ff"><strong>Corona</strong></font> &#8211; penyakit pada saluran pencernaan</li>
<li><font color="#0000ff"><strong>Bordetella</strong></font> &#8211; penyakit yang disebabkan oleh bakteri, sering disebut penyakit <em>&#8220;kennel cough&#8221;</em></li>
</ol>
<p align="left"><font color="#800080"><strong>Anjing umur 6 minggu sampai 1 tahun</strong></font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<ul>
<li> <font color="#0000ff"><strong>DHLPP</strong> </font>+ <font color="#0000ff"><strong>Corona</strong> </font>pada umur <strong>6-8 minggu, 11-12 minggu </strong>dan <strong>15-16 minggu</strong></li>
<li><font color="#0000ff"><strong>Rabies</strong></font> pada umur <strong>4 bulan</strong> (diulang satu tahun kemudian)</li>
</ul>
<p><font color="#800080"><strong>Anjing diatas 1 tahun</strong></font></p>
<ul>
<li>Pengulangan <strong><font color="#0000ff">DHLPP</font>, <font color="#0000ff">Rabies</font></strong><font color="#0000ff"> </font>dan <font color="#0000ff"><strong>Bordetella</strong> </font>setiap tahun</li>
</ul>
<p><em>Dari berbagai sumber</em></p>
<p>drh. Pebi Purwo Suseno</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vetopia.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vetopia.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vetopia.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vetopia.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vetopia.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vetopia.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vetopia.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vetopia.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vetopia.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vetopia.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vetopia.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vetopia.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vetopia.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vetopia.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vetopia.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vetopia.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vetopia.wordpress.com&amp;blog=1882299&amp;post=12&amp;subd=vetopia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vetopia.wordpress.com/2007/10/14/vaksinasi-anjing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc51bdaa2339356634f511ed1f3c454c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">vetopia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Vaksinasi Kucing</title>
		<link>http://vetopia.wordpress.com/2007/10/14/vaksinasi-kucing/</link>
		<comments>http://vetopia.wordpress.com/2007/10/14/vaksinasi-kucing/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Oct 2007 14:05:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vetopia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cat]]></category>
		<category><![CDATA[Pets]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan hewan]]></category>
		<category><![CDATA[Kucing]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit hewan]]></category>
		<category><![CDATA[vaksinasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vetopia.wordpress.com/2007/10/14/vaksinasi-kucing/</guid>
		<description><![CDATA[Program vaksinasi untuk kucing adalah sebagai berikut: Vaksinasi Feline Panleucopenia, Rhinotracheitis, Calici dan Chlamydia pada umur 8-10 minggu dan 12-14 minggu. Vaksinasi Rabies pada umur 20 minggu. Pengulangan setiap 1 tahun sekali. Perlu diperhatikan bahwa sebelum pelaksanaan vaksinasi, kucing harus diperiksa terlebih dahulu dan dinyatakan sehat oleh dokter hewan. drh. Pebi Purwo Suseno<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vetopia.wordpress.com&amp;blog=1882299&amp;post=11&amp;subd=vetopia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight:bold;font-family:georgia;"></span></p>
<p>Program vaksinasi untuk kucing adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Vaksinasi <strong><font color="#0000ff">Feline Panleucopenia, Rhinotracheitis, Calici</font> </strong>dan      <strong><font color="#0000ff">Chlamydia</font> </strong>pada umur <strong>8-10 minggu </strong>dan      <strong>12-14 minggu.</strong></li>
<li>Vaksinasi <strong><font color="#0000ff">Rabies</font> </strong>pada umur <strong>20      minggu.</strong></li>
<li>Pengulangan setiap <strong>1 tahun      sekali.</strong></li>
</ol>
<p>Perlu diperhatikan bahwa sebelum pelaksanaan vaksinasi, kucing harus diperiksa terlebih dahulu dan dinyatakan sehat oleh dokter hewan.</p>
<p>drh. Pebi Purwo Suseno</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vetopia.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vetopia.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vetopia.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vetopia.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vetopia.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vetopia.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vetopia.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vetopia.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vetopia.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vetopia.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vetopia.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vetopia.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vetopia.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vetopia.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vetopia.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vetopia.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vetopia.wordpress.com&amp;blog=1882299&amp;post=11&amp;subd=vetopia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vetopia.wordpress.com/2007/10/14/vaksinasi-kucing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc51bdaa2339356634f511ed1f3c454c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">vetopia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bagaimana penanganan kholera pada peternakan ayam di Indonesia yang ideal?</title>
		<link>http://vetopia.wordpress.com/2007/10/14/bagaimana-penanganan-kholera-pada-peternakan-ayam-di-indonesia-yang-ideal/</link>
		<comments>http://vetopia.wordpress.com/2007/10/14/bagaimana-penanganan-kholera-pada-peternakan-ayam-di-indonesia-yang-ideal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Oct 2007 03:22:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vetopia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Livestock]]></category>
		<category><![CDATA[Poultry]]></category>
		<category><![CDATA[ayam]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan hewan]]></category>
		<category><![CDATA[kholera]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit hewan]]></category>
		<category><![CDATA[peternakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vetopia.wordpress.com/2007/10/14/bagaimana-penanganan-kholera-pada-peternakan-ayam-di-indonesia-yang-ideal/</guid>
		<description><![CDATA[Penyebab Kholera Kholera atau dikenal juga dengan nama fowl cholera, avian pasteurellosis dan avian hemorrhagic septicaemia merupakan salah satu penyakit infeksius yang banyak menyebabkan masalah di peternakan ayam dan kalkun. Kholera merupakan penyakit bakterial yang umum ditemukan pada peternakan kecil di Asia. Mortalitas dapat mencapai 80% terutama pada musim penghujan. Penyakit ini biasanya menyerang ayam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vetopia.wordpress.com&amp;blog=1882299&amp;post=10&amp;subd=vetopia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Penyebab Kholera</strong></p>
<p>Kholera atau dikenal juga dengan nama <em>fowl cholera, avian  pasteurellosis</em> dan<em> avian hemorrhagic septicaemia</em> merupakan salah  satu penyakit infeksius yang banyak menyebabkan masalah di peternakan ayam dan  kalkun.</p>
<p>Kholera merupakan penyakit bakterial yang umum ditemukan pada peternakan  kecil di Asia.  Mortalitas dapat mencapai 80% terutama pada musim penghujan.  Penyakit ini biasanya menyerang ayam diatas 6 minggu ditandai dengan adanya  peningkatan angka kematian yang mendadak dan tidak terduga.</p>
<p>Kholera banyak ditemukan  pada ayam yang stress akibat sanitasi yang jelek, malnutrisi, kandang terlalu  padat, dan adanya penyakit lain. Kalkun lebih rentan terhadap penyakit ini  dibandingkan dengan ayam, dan ayam yang tua lebih rentan dibanding yang masih  muda.</p>
<p>Mengingat tingkat kerentanan dan pengelolaan peternakan, kasus kholera di  Indonesia lebih banyak ditemukan pada ayam petelur dibandingkan dengan ayam  pedaging. Hal ini terkait dengan masa pemeliharaan ayam pedaging yang cukup  pendek, serta kebiasaan peternak yang akan memanen ayamnya lebih cepat apabila  ditemukan kasus penyakit untuk mencegah kerugian yang besar.</p>
<p>Kholera disebabkan oleh <em>Pasteurella multocida,</em> bakteri gram negatif  yang ditemukan oleh Louis Pasteur pada tahun 1880-an.  <em>P. multocida</em>  sangat rentan terhadap disinfektan biasa, sinar matahari dan panas. Akan tetapi  masih bisa bertahan sekitar 1 bulan di kotoran, 3 bulan di karkas dan antara 2-3  bulan di tanah yang lembab.  Infeksi dapat terjadi melalui rute mulut dan  saluran pernafasan.</p>
<p>Kholera dapat masuk ke peternakan melalui burung, tikus, orang atau peralatan  yang pernah kontak dengan penyakit.  Penyebaran antar flok dapat disebabkan oleh  minuman yang terkontaminasi, kotoran dan discharge hidung.</p>
<p><span id="more-10"></span><strong>Apa yang terjadi apabila penyakit ini masuk?</strong></p>
<p>Pada kasus yang akut, kematian ayam merupakan gejala pertama yang nampak.  Demam, turunnya konsumsi pakan, discharge dari mulut, diare dan gejala  pernafasan dapat pula terlihat. Gejala lain termasuk sianosis dan pembengkakan  jengger. Ayam yang bertahan hidup menjadi kronis atau dapat pula sembuh,  sedangkan yang lain bisa mati karena dehidrasi. Pada kasus lebih lanjut, ayam  akan menunjukan gejala penurunan berat badan dan pincang karena infeksi pada  persendian.</p>
<p>Pada awal kasus angka kematian berkisar antara 5-15% bahkan bisa lebih tinggi  apabila terjadi bersamaan denga kasus penyakit lain.  Angka kematian akan  menurun sampai 2-5% ketika kasusnya menjadi kronis.</p>
<p>Ayam yang tertular secara kronis dapat mati, tetap tertular dalam jangka  waktu yang panjang atau sembuh. Persentase yang tinggi dari ayam di dalam flok  akan menjadi carriers walaupun terlihat normal atau sehat dan merupakan sumber  utama penularan. Penyebaran P multocida didalam flok terjadi melalui eksresi  dari mulut, hidung, dan konjungtiva unggas yang sakit dan kemudian  mengkontaminasi lingkungan.  Selain dari ayam yang selamat dari bentuk akut,  kasus kronis ditemukan pada ayam yang tertular agen yang tidak terlalu  ganas.</p>
<p>Ayam yang tertular secara kronis akan mengeluarkan agen penyakit sepanjang  hidupnya. <em>P. multocida</em> dapat ditemukan dalam semua jaringan pada unggas  yang mati dengan gejala septicemia, sehingga praktek kanibalisme juga merupakan  faktor penyebaran yang sangat penting bagi penyakit ini.</p>
<p><strong>Diagnosa</strong></p>
<p>Diagnosa positif hanya dapat dilakukan apabila dilakukan isolasi serta  identifikasi <em>P. Multocida</em> di laboratorium. Diagnosa tentatif bisa  dilakukan berdasarkan sejarah, gejala klinis dan patologi anatomi.</p>
<p>Walaupun sejarah dan gejala klinis menunjukan kemungkinan ditemukannya  kholera, agen penyebab sebaiknya tetap diisolasi sehinga isolat dapat diuji  untuk tingkat kepekaannya terhadap antibiotik.</p>
<p><strong>Pencegahan</strong></p>
<p>Pencegahan terbaik adalah melalui penerapan biosecuriti yang baik, kontrol  rodensia, dan hygiene peternakan. Selain itu sebagai alat pencegahan, bacterin  dapat digunakan pada umur 8 dan 12 minggu serta vaksin pada umur 6 minggu.</p>
<p>Semua langkah dasar dari program biosekuriti diperlukan untuk mencegah  masuknya penyakit.  Orang sebagai sumber penularan yang paling dominan harus  dikontrol dengan baik.  Hanya orang-orang yang perlu masuk kandang saja yang  bisa masuk kedalam kandang dan inipun harus melalu prosedur pencucian tangan  dengan sabun dan kalau memang memungkinkan untuk selalu memakai pakaian kandang  yang baru dan sepatu boot yang bersih.</p>
<p>Program sanitasi yang baik untuk kandang dan peralatan juga sangat penting,  terutama keika persiapan memasukan unggas baru. Hal yang paling penting adalah  pembersihan dan disinfeksi peralatan pakan dan minum.</p>
<p>Pengawasan yang ketat untuk tiap pemasukan pakan, peralatan kandang dan juga  orang sangat diperlukan untuk mencegah masuknya kholera.</p>
<p>Berikut hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah kasus kholera:</p>
<ol>
<li>Ayam yang sakit dan mati di pisahkan dari ayam yang sehat untuk kemudian di  musnahkan (disposal yang baik)</li>
<li>Apabila wabah telah terjadi, dilakukan depopulasi, pembersihan dan  desinfeksi kandang serta peralatan kandang</li>
<li>Jeda waktu antara ayam tua yang di afkir dan penggantinya</li>
<li>Kontrol rodensia dan hama lainnya</li>
<li>Sumber ait minum yang aman dan bersih</li>
<li>Mencegah kontak antara ayam dengan hewan lain dan burung liar</li>
<li>Bacterin dan vaksinasi</li>
<li>Pengobatan Jenis sulfa dan antibiotik (sulfadimethoxine, sulfaquinoxaline,  sulfamethazine, sulfaquinoxalene, penicillin, tetracycline, erythromycin,  streptomycin).</li>
</ol>
<p><strong>Penggunaan vaksin atau bacterin</strong></p>
<p>Vaksinasi dapat dilakukan untuk mencegah penyakit ini, akan tetapi perlu  diingat bahwa vaksinasi hanya merupakan alat pencegahan bagi peternakan yang  berisiko tinggi terkena kholera karena berdekatan dengan peternakan tertular.  Vaksinasi kholera sendiri sebenarnya mempunyai risiko, sebagai contoh: vaksin  hidup walaupun akan memberikan pertahanan juga akan menghasilkan efek samping  yang tidak diharapkan.</p>
<p><em>Bacterin killed</em>, akan memberikan hasil tingkat antibodi yang baik,  tetapi hanya spesifik untuk strain yang digunakan.</p>
<p><strong>Pengobatan</strong></p>
<p>Pengobatan untuk kholera sebaiknya dijadikan alternatif terakhir. Pengobatan  hanya efektif apabila dilakukan pada awal-awal kasus sebelum terlalu banyak ayam  yang tertular dan penyakit menjadi kronis.</p>
<p>Walaupun pengobatan dapat mengurangi dampak dari wabah, ayam tertular dapat  saja kambuh lagi apabila pengobatan dihentikan.  Sehingga pengobatan perlu  diperpanjang dengan penambahan obat ke pakan dan minuman.</p>
<p>Perlu diingat bahwa penggunaan antibiotik atau sulfa harus berdasarkan hasil  tes sensitifitas terhadap agen yang diisolasi dari lokasi kasus. Pengobatan  dapat mengurangi angka kematian dan mempertahankan tingkat produksi. Akan tetepi  apabila infeksi kronis sudah ditemukan, keuntungan pengobatan sangat sulit untuk  dapat dilihat.</p>
<p>Sulfaquinoxaline sodium dalam pakan atau air minum biasanya dapat mengontrol  angka kematian, begitu pula halnya dengan sulfamethazine dan sulfadimethoxine.  Penggunaan tetracycline dosis tinggi dalam pakan (0.04%), air minum atau injeksi  dapat pula bermanfaat untuk pengobatan.  Penicillin efektif digunakan untuk  infeksi yang resisten terhadap sulfa.</p>
<p>Perlu diperhatikan bahwa pengobatan dengan sulfa akan menghasilkan residu di  daging dan telur.  Antibiotik dapat digunakan dengan menggunakan dengan dosis  yang lebih tinggi dan jangka waktu yang cukup panjang untuk menghentikan wabah.  Mengingat adanya efek samping residu yang tidak diharapkan, semua pengobatan  sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter hewan yang dapat menilai efektifitas dan  keamanan dari penggunaan sulfa dan antibiotik ini.</p>
<p align="right">(Dari berbagai sumber)</p>
<p align="right">Drh. Pebi Purwo Suseno</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/vetopia.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/vetopia.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/vetopia.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/vetopia.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/vetopia.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/vetopia.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/vetopia.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/vetopia.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/vetopia.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/vetopia.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/vetopia.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/vetopia.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/vetopia.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/vetopia.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/vetopia.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/vetopia.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=vetopia.wordpress.com&amp;blog=1882299&amp;post=10&amp;subd=vetopia&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vetopia.wordpress.com/2007/10/14/bagaimana-penanganan-kholera-pada-peternakan-ayam-di-indonesia-yang-ideal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc51bdaa2339356634f511ed1f3c454c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">vetopia</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
