FAQ tentang penyakit sapi gila (BSE)-bagian 1

Berikut adalah berbagai informasi tentang penyakit sapi gila yang saya anggap penting untuk diketahui dan akan disampaikan secara acak (dan akan diperbaiki ketika waktunya memungkinkan):

1. Apa itu penyakit sapi gila?

Penyakit sapi gila atau di dunia kesehatan hewan dikenal dengan bovine spongiform encephalopathy (BSE) merupakan penyakit neurogeneratif yang bersifat fatal pada sapi.

2. Apa penyebab BSE?

Sampai saat ini para ahli umumnya sepakat bahwa BSE disebabkan oleh suatu bentuk protein yang bersifat infeksius yaitu Prion.

Continue reading

Peranan Studi Genetik dalam Kegiatan Konservasi

Peranan Studi Genetik dalam Kegiatan Konservasi

Drh. Chandramaya Siska Damayanti, MSi

“Alam di seluruh permukaan bumi tersusun atas berbagai spesies makhluk hidup liar yang tanpa disadari telah memberikan berbagai kemudahan dan pelayanan pada manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, yang bisa jadi sangat mahal atau bahkan tidak mungkin diciptakan sendiri oleh manusia. Berkurangnya jumlah spesies liar di alam dalam jangka panjang dapat memberikan dampak yang sangat buruk bagi kelangsungan hidup manusia itu sendiri.”

Keanekaragaman hayati (biodiversity) dibagi menjadi tiga kategori dasar, yaitu keragaman genetik, keragaman spesies,dan keragaman ekosistem.

Keragaman genetik merupakan variasi genetik di dalam setiap spesies yang mencakup aspek biokimia, struktur, dan sifat organisme yang diturunkan secara fisik dari induknya dan dibentuk dari DNA.

Keragaman spesies merupakan variasi seluruh tumbuhan, hewan, fungi, dan mikroorganisme yang masing-masing bertumbuh dan berkembangbiak sesuai dengan karakteristiknya.

Keragaman ekosistem merupakan variasi ekosistem, dimana ekosistem adalah unit ekologis yang mempunyai komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi, dan antar komponen-komponen tersebut terjadi pengambilan dan perpindahan energi.

Kegiatan konservasi diperlukan untuk mempertahankan keanekaragaman hayati tersebut, dimana saat ini kerusakan lingkungan akibat ulah manusia tidak hanya mengurangi populasi spesies hewan dan tumbuhan, tetapi juga menyebabkan spesies-spesies tersebut terancam punah. Ilmu konservasi mempelajari individu dan populasi yang sudah terpengaruh oleh kerusakan habitat, eksploitasi, dan perubahan lingkungan. Informasi ini digunakan untuk membuat suatu keputusan yang dapat mempertahankan keberadaan suatu spesies di alam. Sudah lebih dari satu dekade ini, studi genetik digunakan untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam dalam pengambilan keputusan tersebut karena, dengan studi genetik, informasi tentang keragaman antar individu di dalam dan antar populasi, terutama pada spesies-spesies yang terancam punah, dapat diketahui.

Continue reading

AI in Indonesia, EI in Australia………….

Another FAQ series

Ini merupakan sumbangan salah satu kolega dokter hewan (drh Chandramaya Siska Damayanti, MSi) dengan sedikit tambahan dari saya. Mudah-mudahan dapat menambah wawasan kita dan juga membuat kita lebih terpicu untuk saling berbagi informasi dan pengetahuan.

Silahkan untuk menambahkan atau mengkoreksi informasi didalam tulisan ini!

Beberapa informasi yang penting tentang EI:

What is EI?
EI stands for Equine Influenza, or to make it easier to say, people called it Horse Flu.

What does cause EI?
Just like other flu diseases, EI is caused by influenza virus. The strain of influenza virus that causes EI is believed to be H3N8.

Continue reading

Global Warming dan Penyakit Hewan

Penulis: drh. Chandramaya Siska Damayanti, Msi

“As a result of globalization and climate change we are currently facing an unprecedented worldwide impact of emerging and re-emerging animal diseases and zoonoses – animal diseases transmissible to humans.
Improving the governance of animal health systems in both the public and private sector is the most effective response
to this alarming situation”

Dr. Bernard Vallat (OIE Director General)

Global WarmingGlobal warming (pemanasan global) merupakan salah satu isu yang sangat penting di seluruh dunia saat ini, selain terorisme. Para kepala negara di seluruh dunia selalu menyempatkan diri membahas isu ini pada momen-momen pertemuan tingkat regional maupun internasional. Begitu pentingnya isu ini, baru-baru ini panitia pemberi Nobel, The Norwegian Nobel Committee menganugerahkan Nobel Perdamaian kepada mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Albert Arnold (Al) Gore Jr, dan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) atas usahanya untuk membangun dan menyebarkan pengetahuan tentang global warming pada masyarakat dunia.

Global warming merupakan istilah yang menunjukkan peningkatan suhu rata-rata udara permukaan bumi dan lautan pada dekade terakhir dan peningkatan suhu ini masih akan terus berlangsung. Suhu udara rata-rata permukaan bumi meningkat 0.74 + 0.18 C dalam 100 tahun terakhir. Sedangkan IPCC memprediksi bahwa suhu global cenderung meningkat sebesar 1.1 sampai 6.4 C antara tahun 1990 dan 2100. Peningkatan suhu bumi sebenarnya dapat terjadi secara alami, namun penyebab utama global warming ini adalah tingginya level greenhouse gases, terutama CO2 dan metan di atmosfer akibat aktifitas manusia, seperti tingginya laju pembakaran bahan bakar fosil dan perubahan fungsi lahan terutama deforestasi.

Continue reading

Vaksinasi Anjing

Program vaksinasi anjing berikut adalah merupakan pedoman untuk pelaksanaan vaksinasi anjing. Untuk penjelasan lebih jelas silahkan menghubungi dokter hewan langganan anda:

  1. Distemper – penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang paru-paru, saluran pencernaan dan otak
  2. Hepatitis – penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang hati
  3. Leptospirosis – penyakit yang disebabkan oleh bakteri pada sistem urinari
  4. Parainfluenza – infectious bronchitis
  5. Parvovirus – penyakit yang disebabkan oleh virus pada saluran pencernaan
  6. Rabies – penyakit yang disebabkan oleh virus, bisa berakibat fatal pada hewan dan juga dapat ditularkan ke manusia (zoonosis)
  7. Corona – penyakit pada saluran pencernaan
  8. Bordetella – penyakit yang disebabkan oleh bakteri, sering disebut penyakit “kennel cough”

Anjing umur 6 minggu sampai 1 tahun

 

  • DHLPP + Corona pada umur 6-8 minggu, 11-12 minggu dan 15-16 minggu
  • Rabies pada umur 4 bulan (diulang satu tahun kemudian)

Anjing diatas 1 tahun

  • Pengulangan DHLPP, Rabies dan Bordetella setiap tahun

Dari berbagai sumber

drh. Pebi Purwo Suseno

Vaksinasi Kucing

Program vaksinasi untuk kucing adalah sebagai berikut:

  1. Vaksinasi Feline Panleucopenia, Rhinotracheitis, Calici dan Chlamydia pada umur 8-10 minggu dan 12-14 minggu.
  2. Vaksinasi Rabies pada umur 20 minggu.
  3. Pengulangan setiap 1 tahun sekali.

Perlu diperhatikan bahwa sebelum pelaksanaan vaksinasi, kucing harus diperiksa terlebih dahulu dan dinyatakan sehat oleh dokter hewan.

drh. Pebi Purwo Suseno

Bagaimana penanganan kholera pada peternakan ayam di Indonesia yang ideal?

Penyebab Kholera

Kholera atau dikenal juga dengan nama fowl cholera, avian pasteurellosis dan avian hemorrhagic septicaemia merupakan salah satu penyakit infeksius yang banyak menyebabkan masalah di peternakan ayam dan kalkun.

Kholera merupakan penyakit bakterial yang umum ditemukan pada peternakan kecil di Asia. Mortalitas dapat mencapai 80% terutama pada musim penghujan. Penyakit ini biasanya menyerang ayam diatas 6 minggu ditandai dengan adanya peningkatan angka kematian yang mendadak dan tidak terduga.

Kholera banyak ditemukan pada ayam yang stress akibat sanitasi yang jelek, malnutrisi, kandang terlalu padat, dan adanya penyakit lain. Kalkun lebih rentan terhadap penyakit ini dibandingkan dengan ayam, dan ayam yang tua lebih rentan dibanding yang masih muda.

Mengingat tingkat kerentanan dan pengelolaan peternakan, kasus kholera di Indonesia lebih banyak ditemukan pada ayam petelur dibandingkan dengan ayam pedaging. Hal ini terkait dengan masa pemeliharaan ayam pedaging yang cukup pendek, serta kebiasaan peternak yang akan memanen ayamnya lebih cepat apabila ditemukan kasus penyakit untuk mencegah kerugian yang besar.

Kholera disebabkan oleh Pasteurella multocida, bakteri gram negatif yang ditemukan oleh Louis Pasteur pada tahun 1880-an. P. multocida sangat rentan terhadap disinfektan biasa, sinar matahari dan panas. Akan tetapi masih bisa bertahan sekitar 1 bulan di kotoran, 3 bulan di karkas dan antara 2-3 bulan di tanah yang lembab. Infeksi dapat terjadi melalui rute mulut dan saluran pernafasan.

Kholera dapat masuk ke peternakan melalui burung, tikus, orang atau peralatan yang pernah kontak dengan penyakit. Penyebaran antar flok dapat disebabkan oleh minuman yang terkontaminasi, kotoran dan discharge hidung.

Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.